Korea Aerospace Industries KF-X adalah Korea Selatan program untuk mengembangkan maju tempur multirole untuk Republik Korea Air Force (ROKAF) dan Bahasa Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU), dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Ini adalah kedua tempur Korea Selatan pengembangan program mengikuti FA-50 .
The project was first announced by South Korean President Kim Dae-Jung at the graduation ceremony of the Air Force Academy in March 2001. Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. South Korea and Indonesia had agreed to cooperate in the production of KF-X warplanes in Seoul on July 15, 2010.
The initial operational requirements for the KF-X program as stated by
the ADD (Agency for Defence Development) were to develop a single-seat,
twin-engine jet with stealth capabilities beyond either the Dassault Rafale or Eurofighter Typhoon , but still less than the Lockheed Martin F-35 Lightning II .
Korea Selatan dan Indonesia telah sepakat untuk bekerja sama dalam
produksi pesawat tempur KF-X di Seoul pada tanggal 15 Juli 2010. [2]
Persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan
oleh ADD (Badan Pertahanan Pembangunan) adalah untuk mengembangkan
kursi tunggal, kembar-mesin jet dengan kemampuan siluman luar baik Rafale Dassault atau Eurofighter Typhoon , tapi masih kurang dari Lockheed Martin F-35 Lightning II . The overall focus of the program is producing a fighter with higher capabilities than a KF-16 class fighter by 2020. Fokus keseluruhan dari program ini adalah memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari -16 KF tempur kelas pada tahun 2020.
Tahun 2020,, itu sudah diperkirakan sudah tiba 50 IFX milik indonesia hasil dari kerja sama dengan korean aerospace industries.
Tahun 2020,, itu sudah diperkirakan sudah tiba 50 IFX milik indonesia hasil dari kerja sama dengan korean aerospace industries.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar