Minggu, 22 April 2012

Korea Aerospace Industries KF-X adalah Korea Selatan program untuk mengembangkan maju tempur multirole untuk Republik Korea Air Force (ROKAF) dan Bahasa Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU), dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Ini adalah kedua tempur Korea Selatan pengembangan program mengikuti FA-50 .
The project was first announced by South Korean President Kim Dae-Jung at the graduation ceremony of the Air Force Academy in March 2001. Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. South Korea and Indonesia had agreed to cooperate in the production of KF-X warplanes in Seoul on July 15, 2010. The initial operational requirements for the KF-X program as stated by the ADD (Agency for Defence Development) were to develop a single-seat, twin-engine jet with stealth capabilities beyond either the Dassault Rafale or Eurofighter Typhoon , but still less than the Lockheed Martin F-35 Lightning II . Korea Selatan dan Indonesia telah sepakat untuk bekerja sama dalam produksi pesawat tempur KF-X di Seoul pada tanggal 15 Juli 2010. [2] Persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Badan Pertahanan Pembangunan) adalah untuk mengembangkan kursi tunggal, kembar-mesin jet dengan kemampuan siluman luar baik Rafale Dassault atau Eurofighter Typhoon , tapi masih kurang dari Lockheed Martin F-35 Lightning II . The overall focus of the program is producing a fighter with higher capabilities than a KF-16 class fighter by 2020. Fokus keseluruhan dari program ini adalah memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari -16 KF tempur kelas pada tahun 2020.

Tahun 2020,, itu sudah diperkirakan sudah tiba 50 IFX milik indonesia hasil dari kerja sama dengan korean aerospace industries.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar